Michelline Syjuco Mengolah Barang Terbuang Jadi Seni Pakai yang Familiar dan Aneh

seni pakai - ilustrasi berita Michelline Syjuco Mengolah Barang Terbuang Jadi Seni Pakai yang Familiar dan Aneh

Pameran Michelline Syjuco memperlihatkan seni pakai dari bahan terbuang—menggunakan agimat kontemporer, material reclamasi, dan folklor Filipina untuk…

Michelline Syjuco menghadirkan pendekatan artistik yang memaksa kita menimbang kembali standar estetika. Lewat karya-karya yang menempatkan kembali benda terbuang ke tubuh manusia, ia menyajikan seni pakai yang sekaligus akrab dan ganjil.

seni pakai - ilustrasi berita Michelline Syjuco Mengolah Barang Terbuang Jadi Seni Pakai yang Familiar dan Aneh

Pameran yang dibuka pada 12 September di APHRO, Karrivin Plaza, mengeksplorasi gagasan pembaruan melalui praktik rekonstruksi: agimat kontemporer, material reclaimed, dan rujukan pada folklor Filipina menjadi bahan utama percakapannya.

Seni Pakai dalam Sorotan

Dalam pameran ini, rekonstruksi bukan sekadar teknik, melainkan cara membaca ulang fungsi dan makna benda. Barang yang telah dipandang tak berharga diberi struktur baru sehingga dapat dikenakan—menggeser posisi objek dari liminalitas ke sirkulasi visual di tubuh. Transformasi semacam ini membuka pertanyaan tentang batas antara sampah dan barang bernilai, serta bagaimana nilai itu ditetapkan kembali oleh proses artistik.

Agimat kontemporer: simbol lama, bentuk baru

Salah satu benang merah pameran adalah penggunaan apa yang disingkat sebagai agimat kontemporer—objek yang membawa muatan perlindungan atau kekuatan ritual tetapi diinterpretasikan ulang dalam wacana kontemporer. Dengan menempatkan agimat dalam konteks pakaian atau aksesori, Syjuco menghadirkan dialog antara kepercayaan tradisional dan estetika modern. Bentuk-bentuk ini meredefinisi peran benda sakral atau talisman saat dikontekstualkan ulang sebagai seni pakai.

Material reclamasi dan etika pembaruan

Material reclaimed menjadi alat utama dalam proses transformasi. Alih-alih mengklaim efisiensi atau solusi ekologis, pameran menempatkan reclaimed materials sebagai bahasa visual yang sarat riwayat. Setiap serat, potongan, atau sisa bahan membawa jejak penggunaan sebelumnya—dan dalam karyanya, jejak itu disusun ulang menjadi struktur baru yang dapat dikenakan. Proses ini menyodorkan perspektif etis: bagaimana kita memaknai kembali hubungan antara produksi, konsumsi, dan residu budaya.

Folklor Filipina sebagai sumber narasi

Rujukan ke folklor Filipina memperkaya pameran dengan lapisan naratif. Elemen-elemen cerita rakyat, simbolisme, dan takhayul muncul sebagai penanda budaya yang menghubungkan objek sehari-hari dengan kepercayaan kolektif. Penggunaan motif folklorik tidak sekadar dekoratif; ia berfungsi sebagai jembatan antara memori bersama dan eksperimen material, memperlihatkan bagaimana mitos dapat terus beradaptasi saat dipadankan dengan praktik artistik kontemporer.

Kesaksian benda dan tubuh

Dengan menempatkan hasil rekonstruksi pada tubuh—atau pada gagasan tubuh sebagai ruang pertunjukan—Syjuco menyodorkan pertanyaan tentang siapa yang memakai dan siapa yang dilindungi oleh benda-benda tersebut. Karya-karya seni pakai di pameran ini berfungsi sebagai medium komunikasi yang memanggil kembali memori kolektif, sekaligus menantang penonton untuk menimbang ulang hubungan antara tubuh, benda, dan makna simbolik yang melekat padanya.

Pameran yang dibuka di APHRO, Karrivin Plaza, pada 12 September menawarkan pengalaman visual dan konseptual yang mengajak penonton memperlambat pembacaan dan melihat kembali benda-benda sehari-hari dengan rasa ingin tahu baru. Melalui penggabungan agimat kontemporer, material reclaimed, dan folklor Filipina, Michelline Syjuco menegaskan bahwa pembaruan bukan hanya soal estetika baru, melainkan soal cara kita menata kembali ingatan dan nilai.

Meski karya-karya tersebut hadir sebagai objek yang dapat dikenakan, dampak pameran melampaui aspek fungsional. Ia membuka ruang refleksi tentang nilai yang kita berikan pada benda, bagaimana perubahan konteks mengubah tafsir, dan bagaimana praktik kreatif bisa menjadi sarana pembacaan ulang terhadap budaya material yang selama ini diabaikan.