Zaid Darbar Dongri: Kisah Mengajar Tari untuk 80 Anak Selama Enam Bulan
Zaid Darbar Dongri mengenang saat ia mengajar tari di penjara Dongri, membina sekitar 80 anak selama enam bulan, berbagi pelajaran seni dan hidupnya.
Zaid Darbar Dongri mengenang pengalamannya mengajar tari di sebuah lingkungan yang jauh dari ruang kelas konvensional. Selama enam bulan, ia rutin mengadakan sesi tarian untuk anak-anak yang berkumpul di dalam kompleks Dongri, sebuah pengalaman yang menurutnya memberi pelajaran berbeda dari panggung atau studio biasa.

Zaid Darbar Dongri dalam Sorotan
Zaid menjelaskan bahwa kunjungannya ke Dongri bukan sekadar mengajarkan teknik tari. Menurutnya, setiap pertemuan menjadi momen belajar yang saling mengisi. Ia mengingat bagaimana dinamika ruang itu menantang tetapi juga membuka peluang untuk berbagi apa yang telah dipelajarinya selama menapaki karier seni.
Ia menggambarkan proses itu sebagai rangkaian pelajaran yang datang dari berbagai arah. Dengan kondisi yang jauh berbeda dari studio tari, Zaid perlu menyesuaikan pendekatan mengajarnya agar sesuai dengan situasi: tidak hanya fokus pada gerakan, tetapi juga pada cara membangun koneksi dan kepercayaan dengan anak-anak yang hadir.
Mengajar di lingkungan tak biasa
Ruang yang tidak lazim itu menuntut ketegasan sekaligus empati. Zaid berusaha membuat suasana tetap kondusif agar anak-anak bisa fokus pada tari, sambil memberi ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Untuknya, pengajaran semacam ini bukan sekadar transfer keterampilan, tetapi juga upaya membangun harapan dan percaya diri kepada peserta didik.
Tari sebagai jembatan pengalaman dan koneksi
Bagi Zaid, tari telah berkembang dari aktivitas pribadi menjadi alat untuk menjangkau orang lain. Pengalaman mengajar 80 anak selama enam bulan menjadi babak yang membuktikan bagaimana seni dapat dipakai sebagai jembatan—menghubungkan latar hidup yang berbeda dan membuka percakapan yang mungkin tidak terjadi di tempat lain.
Ia menilai momen-momen seperti ini memperkaya perjalanannya sebagai koreografer dan kreator digital. Selain menanamkan teknik, Zaid merasa dapat membagikan nilai-nilai yang ia peroleh dari kariernya, termasuk disiplin, kerja tim, dan cara mengekspresikan emosi melalui gerak.
Siapa Zaid Darbar?
Selain pengalamannya mengajar di Dongri, Zaid dikenal publik sebagai aktor, koreografer, dan kreator digital. Ia adalah putra dari komponis musik ternama Ismail Darbar. Dalam kiprahnya belakangan, Zaid mulai merambah ke dunia akting dan penyutradaraan.
Zaid memulai debut aktingnya dalam film bergenre psikologis berjudul Kangla Influencer, di mana ia memerankan tokoh influencer media sosial bernama Karan. Ia juga sempat menjadi peserta dalam sebuah program realitas bernama The Alliance, yang menempatkan gaya bermain dan hubungan antar-peserta sebagai bahan perbincangan publik.
Dalam urusan pribadi, Zaid menikah dengan aktris Gauahar Khan. Pasangan ini dikaruniai dua putra bernama Zehaan dan Farwaan. Identitas sebagai anak dari keluarga musisi, sekaligus suami dan ayah, turut membentuk perspektif Zaid dalam berkarya dan berinteraksi—termasuk saat memilih untuk mengajar tari di lokasi yang tak biasa seperti Dongri.
Pengalaman mengajar di Dongri tetap menjadi bab yang menonjol dalam perjalanan seni Zaid. Menghabiskan enam bulan bersama puluhan anak dalam satu ruang mengubah cara ia memandang peran tari: bukan semata hiburan atau pertunjukan, melainkan sarana pendidikan emosional dan sosial yang mampu membuka ruang baru bagi yang selama ini jarang tersentuh oleh dunia seni formal.
